Tuesday, December 24, 2013

Surat Untuk Aku dan Kamu , Bonek






Bonek , sudah banyak yang menuliskan apa,siapa,bagaimana dengan apa yang di sebut bonek.Tidak bisa dilepaskan dari sebuah klub sepakbola Surabaya yaitu Persebaya Surabaya.


Disini saya tidak akan menulis tentang sejarah ataupun asal muasal bonek tetapi akan sedikit beropini tentang apa yang terjadi sekarang sebagai seorang bonek itu sendiri. Tulisan ini mungkin nanti tidak bisa seimbang ataupun obyektif tapi ini murni opini dari saya.

Saat ini di akhir 2013 bonek mengalami sebuah dilema di kalangan bonek sendiri. Kenapa bisa begitu , semua sudah paham saat ini ada dua klub di Surabaya yang secara nyata memang ada. Satu Persebaya yang berkompetisi di IPL musim lalu dan Persebaya yang berkompetisi di DU musim lalu. Kenapa saya tetep menuliskan ada dua Persebaya tersebut, ini semata-mata berdasarkan “fakta” yang “diakui” oleh Federasi sepakbola kita sebelum Persebaya (1927) akhirnya tidak diakui oleh federasi.

Kembali ke awal saya tidak akan membahas tentang dua klub tadi,tapi akan langsung dengan apa yang terjadi sekarang. Fakta Bonek pecah menjadi dua kubu ,harus kita akui bersama.Hanya karena beda klub yang didukung di ranah media social pun secara gamblang terlihat “perang” opini . Belum lagi gesekan yang sudah terjadi di lapangan. Ini semua menurut saya saat ini ujian terbesar bagi kedewasaan bonek untuk saling menjaga dan menahan diri jangan sampai terjadi apa yang bisa dinamakan perang saudara.

Sebagai arek Surabaya sudah semestinya semua bisa diselesaikan perpedaan pandangan dan dukungan ke klub itu disikapi dengan dewasa dan dengan cara Surabaya. Memang semua ini tidak mudah tapi saya yakin akan bisa dengan terus mendewasakan diri masing-masing bonek terus di tularkan ke saudara-saudara terdekat bahwa persaudaraan antar bonek sendiri itu jauh diatas segalanya.

Prinsip bahwa tidak ada yang bisa merasa lebih bonek dari lainnya harus dikedepankan, perkara masalah legalitas klub biarkan para stakeholder lain yang memegang hak kelola untuk berjuang di ranah hukum dengan tetap memperhatikan semua bukti dan fakta sejarah yang ada. Tugas kita semua adalah mendorong klub apa yang kita dukung untuk berjuang dengan keyakinannya , bukan bertikai antar supporter sendiri.

Pertengahan Januari 2014 ini jika tidak ada perubahan PSSI akan melaksanakan Konggres di Surabaya. Ini akan semakin ramai jika bonek sudah turun ke lapangan dan bisa saling head to head sesame bonek sendiri membela dua kubu yang berbeda. Di jaman yang demokratis seperti sekarang hak demo tersebut memang tidak dilarang,menurut saya yang perlu di tekan justru kepengurusan PSSI sekarang dengan segala permasalahannya bukan salaing berhadapan antar bonek. Waspadalah kita semua di adu domba para mafia !

Fokuskan perjuangan dan dukungan kalian untuk klub yang anda sayangi dan cintai , tidak perlu dengan mengejek saudara sendiri atau bahkan klub yang tidak kalian sukai,biarlah seleksi alam akan berjalan dengan sendirinya. Tidak usah memaksakan pengaruh ke bonek lainnya ,karena kalau semua hasil pemaksaan tidak akan langgeng,biarlah berjalan alami.

Wahai bonek ayolah kita lawan mafia sepakbola nasional secara bersama bukan saling “tukaran” sendiri bahkan di rumah sendiri , kalian semua sudah dewasa dan kalian semua adalah supporter yang hebat. Tunjukan jiwa Arek Suroboyo sebagai pejuang yang pemberani melawan penindasan dan ketidakadilan.

#kabehdulur

Salam Satu Nyali Wani

Wednesday, November 13, 2013

Saya Cinta Persebaya , Titik !



Cinta itu buta tapi bukan berarti kalau buta itu tidak bisa melihat, masih bisa membedakan mana Ferrari atau Honda City.

Cinta terhadap sesuatu juga bukan hanya memuji dan menghamba kepada yang dicintai akan tetapi karena adanya cinta itu justru ada keharusan dan kewajiban untuk member semacam penilaian dan kritikan agar apa yang dicintainya menjadi lebih baik kedepannya.

Di luar sana ada Romeo dan Juliet yang ceritanya begitu kondang saling setia dan sehidup semati , mungkin terlalu jauh membandingkan kisah itu dengan hubungan antara bonek dan Persebaya. Kecintaan atau kesetiaan bonek pada Persebaya itu kalau boleh dikatakan kekal walau dengan cara mereka (pribadi) masing – masing.

Dari generasi ke generasi dengan berbagai cara dan dukungan bonek selalu mencintai Persebaya sebagai sebuah klub besar dengan prestasi lokal 5 kali Juara Perserikatan dan 2 kali Juara Liga Indonesia. Bonek sebagai seporter yang hanya mendukung Persebaya di lapangan,saat ini juga sudah terlalu sering yang dalam bahasa anak sekarang di PHP sama managemen tentang arah dan kebijakan klub. Sebagai bagian luar klub saya tidak terlalu tahu apakah managemen juga memiliki rasa yang sama dengan yang dipunyai bonek terhadap klub besar ini.

Berbagai masalah internal sedang dihadapi klub ini ,informasi diluar berkembang liar karena tidak adanya semacam juru bicara dari pihak managemen yang menginfokan perkembangan yang terjadi. Apapun yang terjadi di dalam sebenarnya tidak akan pernah menyurutkan rasa cinta saya sebagai bonek untuk tetap mendukung Persebaya.

Harapan saya sebagai bonek adalah managemen bisa secepatnya menghidupkan kembali organisasi klub,jika para orangnya hanya berfikiran mencari uang di dalam segeralah berkemas,gantilah dengan yang bisa menghasilkan uang buat klub demi kebanggaan Persebaya. Persebaya adalah Surabaya berilah kebanggaan kota ini dengan prestasimu seperti dulu. Ajaklah semua stakeholder sepakbola Surabaya membahas bagaimana baiknya semua demi kemajuan Persebaya.

Saya yakin dengan berkolaborasinya semua pihak yang mencintai dengan tulus Persebaya dan mau bekerja secara professional,klub ini akan bangkit dan memberi kebangaan tersendiri bagi kota Surabaya dan bonek pada umumnya.

I LOVE PERSEBAYA

Kami Rindu Juara , Salam Satu Nyali!

Wednesday, September 18, 2013

Dilupakannya Legenda Persebaya


Reposting dari  : http://dretinfant.com/dilupakannya-legenda-persebaya.html





Liga Indonesia – Penggemar sepak bola zaman sekarang mungkin tidak mengenal Liem Tiong Hoo alias Hendro Hoediono. Tapi cobalah bertanya kepada oma-opa yang pernah menikmati geliat Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya), bond atawa perserikatan bola kebanggaan arek-arek Suroboyo, pada era 1940-an dan 1950-an.

Nama Liem Tiong Hoo, pemain klub Tionghoa (kemudian berganti nama menjadi Naga Kuning dan Suryanaga, Red), sangat terkenal pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Liem benar-benar menjadi idola masyarakat pada masanya.

Dirinya bersama para pemain lain dari sejumlah klub di Surabaya berjasa melambungkan nama Persebaya di pentas bola nasional.

“Zaman saya dulu Persebaya hampir selalu menang, jarang kalah. Dan nggak pernah ada kerusuhan,” tegas Liem Tiong Hoo.

Waktu masih anak-anak Ia sudah sangat suka main sepak bola. Pulang sekolah, Liem Tiong Hoo kecil langsung menuju lapangan di Cannalaan, yang sekarang jadi Taman Remaja.

Pada tahun 1934-1944, di Surabaya ini ada klub Persebaya dan SVB atau Soerabaiasche Voetbal Bond. SVB ini diikuti klub-klub seperti Tionghoa, HBS (Houd Braef Standt), Exelcior, THOR (Tot Heil Onzer Ribben), Gie Hoo, Annasher.

Itu merupakan kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Ketika dirinya masih berjaya sebagai pemain sepak bola dan bisa mencetak banyak gol di gawang lawan. kemudian namanya akhirnya dikenal orang di mana-mana.

Akhirnya prestasinya itu membuat dirinya di lirik Persebaya.Tahun 1943 dirinya menjadi pemain termuda di Persebaya dengan usia 17 tahun. Setelah itu menLiem Tiong Hoo jadi langganan di Persebaya. Ikut kejuaraan dan turnamen di berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Bandung.

“Persebaya dulu itu beda dengan yang sekarang ini. Persebaya itu bukan klub yang membeli pemain-pemain dari luar, tapi mengambil pemain dari klub-klub yang ada di seluruh Kota Surabaya. Pemain yang bagus-bagus dari beberapa klub itu diambil untuk memperkuat Persebaya ” kenangnya.

Pada saat masa nya dulu Persebaya memang terkenal sangat kuat.Dulu, Persebaya punya trio lini belakang dan trio lini depan yang disegani lawan-lawannya. Trio belakang: Sidi, Sidik, Sadran. Trio depan: (Liem Tiong Hoo), Bhe Ing Hien, Tee San Liong. “Kalau ada tiga teman di belakang ini, saya tidak khawatir pasokan bola dan pertahanan akan bagus. Itu yang membuat Persebaya sangat kuat ” ujar Liem Tiong Hoo.

Suatu ketika tim nasional Republik Tiongkok Nasionalis berkunjung ke Surabaya. Liem tentu saja memperkuat Persebaya untuk menghadapi kesebelasan yang saat itu sangat disegani di Asia Timur Jauh (Far-East Asia). Melihat kelincahan Liem mengolah si kulit bundar dan mengecoh lawan-lawannya, Liem diajak memperkuat tim nasional Tiongkok.”Saya menolak karena saya orang Indonesia. Saya bukan orang Tiongkok,” tegas Liem Tiong Hoo.


Bukan itu saja. Liem juga dirayu agar bergabung dengan klub Feyenoord di Negeri Belanda. Biaya kuliah, biaya hidup, dan sebagainya ditanggung pihak Belanda asalkan bintang muda Persebaya asal Klub Tionghoa itu mau diboyong ke negara kincir angin. “Saya bilang tidak. Saya bukan orang Belanda. Saya orang Indonesia,” kenang ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.
Menjelang Olimpiade 1952, diadakan seleksi pemain untuk membentuk tim nasional Indonesia. Liem tidak bisa berlatih intensif karena beban studi di FK Unair sangat tinggi. Namun, pelatih dan pengurus PSSI ingin agar Liem masuk tim nasional meskipun tidak ikut seleksi dan latihan. Liem kontan menolak. “Saya bilang, saya nggak ikut latihan kok masuk tim?” tukasnya.

Tim seleksi tetap meyakinkan bahwa kemampuan Liem Tiong Hoo masih selevel dengan pemain-pemain nasional lain meskipun tidak berlatih. Liem rupanya tak bisa dirayu. “Saya harus konsekuen. Kalau nggak ikut latihan, ya, tidak boleh ikut gabung. Itu sudah jadi prinsip saya,” tegasnya.

Di usia 83 tahun, Liem Tiong Hoo, yang lebih dikenal sebagai Dokter Hendro Hoediono, masih tetap praktik sebagai spesialis penyakit kulit dan kelamin. Tubuhnya masih tegap, ingatan tajam, dan punya selera humor tinggi. Liem masih ingat persis kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya di lapangan hijau 70-an tahun silam.

“Gigi saya ini palsu karena yang asli sudah patah saat main sepak bola. Main sepak bola, ya, risikonya begitu. Kalau nggak mau, ya, silakan main pingpong atau badminton,” ujar Liem Tiong Hoo.

BIODATA


Nama : Liem Tiong Hoo
Nama populer : dr. Hendro Hoediono
Lahir : Surabaya, 23 Oktober 1926
Istri : Listiyani (almarhumah)
Idola : Lee Waitong, Raja Bola Timur Jauh (Tiongkok) era 1930-an.
Pendidikan :
- Algemeene Middelbare School (AMS), Jl Kusuma Bangsa Surabaya
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
Penghargaan:
- Ketua Umum Persebaya Bambang DH, 18 Juni 2004, sebagai legenda Persebaya.
- Presiden Soeharto sebagai dosen FK Unair yang berdedikasi.

Tuesday, June 18, 2013

Persebaya semakin renta ...






Umur manusia rata-rata di Indonesia di seputaran 60 – 80 tahun . Diusia seperti itu sudah memasuki masa dimana banyak diantara nya sudah pension dari segala kegiatannya dan menikmati hari tuanya dengan bermain dengan cucunya,istirahat di rumah bahkan menikmati masa tuanya dengan liburan keliling dunia.


Hari ini 18 Juni 2013 sebuah klub asal Surabaya bernama Persebaya tepat berumur 86 tahun. Sebuah usia yang cukup panjang untuk ukuran klub sepakbola di Indonesia bahkan disbanding usia republik ini yang justru akan memasuki usia ke 68 tahun bulan Agustus nanti.

Memasuki usia ke 86 ini Persebaya mengalami masa krisis dalam semua aspek di dalamnya. Masa pasang surut sejarah Persebaya sudah banyak diulas dan semua bisa dilewati dengan kerja keras dan kerja cerdas. Dengan prestasi sebagai juara 5 kali di jaman Perserikatan dan 2 kali di jaman sepakbola professional Liga Indonesia , Persebaya mempunyai sejarah dan prestasi yang sangat hebat di masa lalu.

Ya , klub ini sudah lama tidak menikmati masa emas dengan meraih sebuah trophy sebuah kompetisi sejak terakhir meraihnya tahun 2004 saat ditangani oleh Jacksen F Tiago bekas bintangnya yang juga meraih gelar sebagai pemain tahun 1997. Kompetisi silih berganti musim,pemain keluar masuk begitu juga pelatih dan stafnya bahkan kepemilikan juga banyak berubah. Akan tetapi satu nama yang tetap adalah Persebaya yang dilahirkan atau didirikan 18 Juni 1927.

Dalam posisi sekarang tidak bisa dipungkiri bahwa ada “dualisme” dalam klub ini satu menggunakan nama Persebaya DU yang berkompetisi di Liga Indonesia dan Persebaya 1927 yang berkompetisi di Liga Prima. Dan semua ini juga diakibatkan oleh dualismenya federasi sebelumnya. Tapi semua bisa dilihat dan diamati mana yang secara terang berada di hati masyarakat Surabaya sendiri.

Persebaya semakin tua , Persebaya semakin banyak masalah , Persebaya harus jatuh bangun belum lagi dihantam prahara. Saya yakin semua ini akan dilewatinya dengan penuh perjuangan.

Selamat Ulang Tahun Persebaya , semoga anak cucu kita nanti masih tetap bisa melihat dan menikmati klub bernama Persebaya.

Jagalah kesehatan mu, karena kamu semakin renta !! Persebaya Emosi Jiwaku

Monday, June 17, 2013

Persebaya dan Tiket Palsu







Minggu pagi 16 Juni 2013 cuaca Surabaya seperti hari-hari sebelumnya mendung gelap menggelayut diatas langit kota ini dan beberapa daerah diguyur hujan mulai pagi. Menginjak siang kencangnya angin mengusir gelapnya mendung di beberapa kawasan dan membuat saya dengan hawa sejuk berangkat menyusuri jalanan pinggiran Surabaya menuju Gelora Bung Tomo (GBT) untuk melakukan ibadah nonton Persebaya yang hari itu menjamu pimpinan klasemen IPL Perseman Manokwari sebuah klub bola asal Papua yang berhome base di Sleman DIY.


Jarak tempuh yang lumayan dari tempat tinggal di wilayah timur menuju stadion di wilayah barat saya tempuh lebih kurang satu jam. Memasuki daerah sememi sepertinya baru saja diguyur hujan melihat jalanan basah dan beberapa tempat terlihat genangan air. Terlihat sudah banyak rombongan bonek beriringan menuju GBT. Sesampainya di GBT langsung mencari tempat parker dan dengan segera menuju stadion mencari loket untuk membeli tiket masuk. Tiket seperti biasa hanya dijual di seputaran stadion setelah tiket box yang musim lalu ada dihapuskan oleh panpel dengan berbagai alasan.

Saya membeli 3 tiket ekonomi seharga 25 ribu rupiah per lembarnya di Gate 19 , dibelakang saya ada seorang teman membeli 2 lembar tiket. Setelahnya kita menuju gate 15 untuk masuk stadion dan disitu ada 4 portir berseragam dan beberapa petugas keamanan. Teman saya yang beli 2 tiket tadi berada di depan saya ditolak masuk oleh porter dengan alasan tiketnya palsu,padahal beli di loket. Giliran saya masuk herannya tiket saya ternyata asli dan sempat di cek juga oleh teman saya pertama ada beda warna sedikit yang kalau tidak teliti terlihat sama.

Dengan sedikit terheran saya berfikir, ada unsur kesengajaan disini kenapa di loket resmi ada tiket palsu. Saya langsung masuk stadion dan berkomunikasi dengan teman lain ternyata banyak yang menemukan dan mengalami seperti teman tadi. Loyalitas bonek dan kampanye panitia #notiketnogame dibayar panitia dengan cara seperti ini.

Jika di laga Persebaya v PSM pada tanggal 13 Juni 2013 ditemukan tiket tidak berpoporasi sebagai tanda sudah disahkan oleh dispenda setempat,maka kemarin tiket palsu beredar justru ada porporasinya. Ada apa ini dan kenapa bisa terjadi semoga dalam waktu dekat terungkap.

Perihal adanya kasus ini kemarin sekertaris panpel Ram Surahman berkata : "Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Saat tim ini sedang membutuhkan dana, justru ada orang yang dengan sengaja berbuat kejahatan dan merugikan klub. Kami akan usut tuntas kasus ini. Kami tak akan biarkan pelakunya berkeliaran dan melakukan hal serupa di kemudian hari,"

Disini saya tidak akan menulis tentang jalannya pertandingan yang berakhir 2 – 1 untuk Persebaya lewat gol Soller menit 1 dan Karlovic menit 81. Lebih tertarik tentang masalah lama yang selalu berulang dan tambah canggih yaitu ticketing.

Jauh sebelum panpel atau managemen mengkampanyekan no tiket no game,beberapa komunitas bonek telah mendahuluinya dengan itu bahwan ada juga “buying without watching” yang kurang lebih berarti banyak bonek luar kota/pulau bahkan dalam kota yang membeli tiket tanpa melihat ke stadion. Ini sebagai bentuk keprihatinan dan loyalitas bonek dalam mendukung dan membantu Persebaya dengan caranya.

Tapi apa yang terjadi kemarin sepertinya akan menjadi titik balik bagi gerakan bonek jika tidak ada perbaikan dari pihak panpel,bisa jadi laga home di putaran kedua nanti akan ada hal yang mungkin tidak akan diduga oleh Persebaya sendiri. Menarik dinantikan apa yang akan terjadi di putaran kedua.
Football without fans is NOTHING , Persebaya tanpa BONEK bukan apa-apa !!

sumber gbr : beritajatim