Friday, October 9, 2015

REVOLUSI PERSEBAYA



“Perjuanganmu akan lebih sulit , karena melawan bangsamu sendiri”

Arek Surabaya ini telah membuat prediksi yang sangat popular dan relevan saat ini untuk bangsa kita juga untuk Persebaya Surabaya.

Sudah cukup rasanya waktu bagimu lebih dari 5 tahun . Usia dimana semestinya sudah beranjak sekolah lebih tinggi. Tidak ada hal yang membanggakan dari masa itu.

Jika di runut dari lahirnya 2009 sampai saat ini sudah lebih dari 5 tahun. Dengan orang yang sama selama itu. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya , periode ini adalah periode gagal.

Persebaya sekarat . Disamping faktor luar justru dari dalamlah sebenarnya semua bermula. Coba buka semua file koran atau media online semasa itu.

Kolaborasi managemen yang ada dan para mantannya yang di dalam adalah setali tiga uang. Sama-sama busuk. Bila ada yang maju atau membawa kearah kemajuan justru disingkirkan.

Persebaya sebagai salah satu bekas klub perserikatan. Klub ini secara histori dan dalam waktu yang lama banyak didanai oleh pemerintah kota Surabaya. Tentu juga sumbangan pengusaha yang dekat dengan pemkot waktu itu.

Semua fasilitas baik lapangan latihan , mess pemain , roda kompetisi internal ( pengurus cabang pssi kota ) menggunakan fasilitas pemkot. Pun juga soal pendanaannya. Itu berlangsung tahunan saat APBD masih boleh digunakan.

Maka saat berdirinya PT Persebaya Indonesia tidak ada unsur pemerintah kota sebagai pemegang saham menurut saya sangat aneh. Bagaimanapun ada semacam setoran modal secara langsung oleh pemkot. Contoh komplek Karanggayam itu milik pemkot.

Kenapa tiba-tiba muncul komposisi saham PT.PI tersebut ? Hanya Tuhan dan mereka (pengurus) nya yang tau. Kenapa pemkot tidak menggugatnya ? 

Dengan pemegang saham hanya Cholid Goromah , Saleh Ismail Mukadar dan Koperasi Mitra Surya Abadi. Koperasi ini infonya beranggotakan pemilik klub internal.

Mari coba kita lihat apa yang menyebabkan Persebaya sekarat dari kaca mata biasa saja.

DUET BELUT BIKIN KABUT

Surabaya sangat terkenal mempunyai makanan lezat dari belut. Ya , namanya Spesial Belut Surabaya dengan pemilik H.Poer.

Belut banyak hidup di sawah yang sekarang banyak di ternakan untuk kepentingan restoran. Mahluk yang sangat licin dan gesit jika di habitatnya. Susah di tebak lubang persembunyiannya. Mereka berdua menjadikan Persebaya terselimuti kabut gelap.

Secara moral seharusnya mereka berdua sudah mundur sebagai duet pemimpin PT.PI. Kalau lebih malu lagi boleh bunuh diri. Kenapa harus turun ?

Apa yang telah mereka perbuat selama ini tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Perusahaan merugi. Meninggalkan banyak hutang ke pihak lain. Dan yang paling menyesakkan adalah ikut andil hingga Persebaya sekarat seperti saat ini.

Coba misalnya ada direksi sebuah perusahaan dimana laporan keuangan dan prestasinya jelek dan minus selama 5 tahun akan di teruskan ? Saya merasa pemilik saham lain akan mengadakan RUPS untuk evaluasi dan mengganti jajaran direksi.

Bagaimana dengan tanggungjawab hutang-hutang selama mereka menjabat ? Penjelasannya di akhir tulisan nanti.


PARASUT BUKAN PARASIT

Dalam ilmu biologi yang membahas tumbuhan di kenal ada namanya tumbuhan parasite. Yaitu tumbuhan yang dalam kelangsungan hidupnya menggantungkan sebagian besar atau seluruhnya pada tumbuhan lain atau induknya.

Nah klub internal sebagai anggota dari koperasi tadi bisa dikatakan sebagai parasit bagi PT.Persebaya Indonesia sebagai induknya. Sebagai badan hukum tersendiri sudah semestinya PT PI terbebas dari kewajiban atau rongrongan klub internal itu sendiri.

Sebagai pemegang saham benar , tapi dalam menjalankan roda perusahaan itu harus terpisah. Apalagi tidak jelas setoran modal apa yang sebenarnya tercatat dari klub internal ke PT PI. Ada yang tau ?

Perpindahan pemain dari internal ke Persebaya pun ada harganya. Juga sudah beralih dari pemain amatir ke professional. Pemain menjadi milik Persebaya lagi bukan klub internal.

Disini harusnya sudah putus hubungan secara legal. Tidak boleh klaim lagi bahwa pemain masih dimiliki klub internal.

Saat ini secara riil hanya berapa klub internal yang masih hidup secara sehat. Logika saja mengurus badannya sendiri saja sempoyongan apalagi masih ikut mengurus klub sebesar Persebaya.

“Bisa saja dengan adanya investor andal yang membiayai Persebaya , nanti nasib kami (klub internal) kembali cerah seperti dulu” statemen Maurits salah satu bos klub internal di Jawa Pos 8 Oktober 2015.

Dari statemen tersebut terlihat bahwa klub internal masih akan tetap menjadi parasite bagi Persebaya. Semestinya klub internal itu menjadi parasut bagi Persebaya. Sebagai bank pemain muda. Persebaya akan membeli pemain ke klub tersebut.

Parasut yang dimaksud adalah klub internal ikut melindungi Persebaya dengan memasok pemain berkualitas dengan harga pantas. Wajar secara klub internal melalui koperasi menjadi pemegang saham klub.

Untuk itu di perlukan langkah radikal menyelamatkan klub secara cepat dan matang. Jangan hilang momentum yang ada. Bergeraklah dan bekerjalah secara cerdas dan gotong royong. Tidak berjalan sendiri-sendiri.


REVOLUSI PERSEBAYA

Dalam salah satu kalimatnya seorang Tan Malaka berkata “ Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan” dalam aksi massa tahun 1926. Dilanjut dengan “Revolusi itu menciptakan”

Sebuah gerakan moral bersama untuk penyelamatan Persebaya. Revolusi Persebaya. Jika 2010 terjadi gerakan revolusi mengganti rezim Nurdin Halid dengan revolusi PSSI. Maka saat ini sudah saatnya bonek melakukan gerakan Revolusi Persebaya.

Beberapa hal bisa di jelaskan mengapa hal ini perlu dilakukan. Paling utama adalah managemen di bawah Cholid G , Saleh Ismail Mukadar beserta klub internalnya telah gagal.

Langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk itu saya coba sedikit menuliskannya sesuai yang saya mengerti. Semoga nanti ada yang menambah atau mengoreksinya.

Intinya Revolusi Persebaya harus jalan secepat-cepatnya dengan perhitungan yang matang.

Mendesak Rapat Umum Pemegang Saham kepada para pemegang saham. Mengembalikan semua saham kepada forum tersebut secara nyata beserta hitungan nilai saham sesuai akta pendirian. 

Pemegang saham harus berbesar hati menyerahkan sebagian saham ke investor atau pihak lain untuk ikut mengelola PT.PI. Dilakukan penilaian yang wajar atas nilai saham , asset klub ( ada atau tidak ?) dan tentu saja hutang berjalannya.

Kekonyolan atau kekeliruan dalam pengelolaan selama ini harus dijadikan pelajaran. Jangan diulangi apapun alasannya. Cholid Ghoromah dan Saleh Ismail Mukadar harus keluar dari managemen. 
Meraka Gagal.

Jangan lupakan Bonek. Bonek adalah bagian yang sangat penting untuk Persebaya. Investor akan melihat bonek sebagai bagian dari investasi mereka mengelola PT.PI. Jika memang bonek melalui koperasi atau yayasan yang mau dibentuk untuk menjadi bagian pembeli saham , biarkan berjalan sesuai aturan yang ada.

Duet Cholid Saleh mundur dan klub internal tau diri dalam hal pengelolaan nanti adalah kunci dalam mendatangkan investor. Persebaya dan bonek itu seksi.

Semua hutang bisa diselesaikan dengan dihitung sebagai setoran modal yang datang nanti. Analoginya jika saham yang dijual total sebesar 70% dengan nominal 70 milyar . Maka dari 70 milyar itu sebagian langsung digunakan untuk melunasi semua hutang PT.PI.

Nominal lain langsung digunakan untuk membangun fasilitas tim , lapangan dan mess sendiri , membentuk tim managemen dan klub sesuai anggaran yang ada. Tidak besar pasak daripada tiang.

Tidak ada kewajiban investor membiayai klub internal dan kompetisi internal. Itu domain asosiasi sepakbola Kota Surabaya. Sebagai tim amatir mereka masih boleh menerima bantuan dana dari pemkot. Dan tentu saja bisa mencari sumber dana sendiri tanpa perlu menyusu ke Persebaya.

Biarkan Persebaya mandiri tanpa gangguan internal. Bonek juga wajib mengawasi kinerja mereka untuk mengelola klub kesayangannya. Dukung jika positif kritisi jika melenceng.

Jadi impian saya adalah jangan Kembalikan Persebaya ke Karanggayam yang banyak tikus contongnya , tapi Kembalikan Persebaya sebagai klub kebanggaan. Bisa punya komplek latihan milik sendiri tanpa perlu nebeng asset pemerintah kota.

Sedikit menggocek ungkapan tokoh terkenal “di dalam masa revolusilah tercapainya puncak kekuatan moril , terjadinya kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk merenovasi bangunan  Persebaya baru” .

Meminjam judul buku Budiman Sudjatmiko jadilah bonek generasi sekarang sebagai Arek – Arek Revolusi.

Revolusi Persebaya ! Cholid Saleh mundur. Tanpa itu semua , akan mengulang yang sudah-sudah. Percayalah Persebaya akan kembali.





Tuesday, September 29, 2015

Bendera masih setengah tiang , Persebaya !




Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap  , begitu biasanya dalang wayang kulit mengucap mantra sakti lakon wayang.

Bung Karno arek Suroboyo sudah mengingatkan kita semua " Musuhku mudah karena melawan penjajah, namun musuhmu akan lebih sulit karena kau melawan bangsamu sendiri…"

Terjadi semacam kekacauan baik di bumi maupun pertanda langit. Begitulah yang saat ini terjadi di Persebaya dan Bonek. Saat perjuangan hampir mencapai puncaknya , jalan semakin terjal.

Diawali dengan disahkannya Logo dan Nama Persebaya oleh Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia.  Surat keputusan tersebut diterima tanggal 21 September 2015 di Jakarta.

Kabar gembira ini tentu saja membuat bonek sedikit bahagia setelah lama berjuang. Begitu juga pihak managemen PT Persebaya Indonesia , dalam hal ini Cholid Goromah dan Saleh Ismail Mukadar.

Jumat 25 September 2015 tertulis pada harian Jawapos bahwa aka nada rapat managemen PT. PI dengan anggota klub internal Persebaya. Rapat akan dilakukan di kantor parpol PERINDO di Jalan Arjuno.

Bak petir berkekuatan bom atom menyambar di hati dan pikiran sebagian besar bonek. Satu pertanyaan mengapa rapat internal dilakukan di gedung partai politik ? Persebaya punya gedung pusat perjuangan selama ini , Mess Eri Irianto.

Belum reda pembahasan masalah symbol tempat mereka rapat. Senin 28 September 2015 kabar mengejutkan lagi-lagi diperoleh dari tulisan di Koran Jawapos. 



Ada pernyataan dari Cholid Ghoromah yang menurut bonek sangat menyakitkan di artikel tersebut. Dari pernyataan itu sekilas memang benar tapi sejarah mengapa bonek menuju kesana ini yang perlu semua untuk memahami.

Sudah hilang kepercayaan bonek terhadap managemen. Kenapa sampai lama dipertahankan ? Semua karena tanggung jawab mereka untuk menyelesaikannya lebih dahulu.

Senin sore saat itu sampai Selasa dini hari 29 September 2015 semua berlangsung dramatis. Serba cepat , mengharukan , sumpah serapah , emosional semua bercampur jadi satu. Cinta terhadap Persebaya dari bonek.

Hestek #SalehCholidOut #SIMCGOUT bersliweran di media sosial . 

Komunikasi diantara para stakeholder Persebaya seakan putus, managemen , klub internal dan bonek pecah malam itu juga. Menyedihkan,

Beberapa rekan bonek berusaha berkomunikasi dengan mereka tapi yang di dapat justru jawaban yang mengambang dan melemahkan semangat perjuangan.

CG sebagai pengurus tertinggi sampai selasa siang belum bersuara, sembunyi entah dimana. Sementara satu persatu dari para bonek sudah menyatakan mundur dari perjuangan ini.

Berikut saya kutip dari akun twitter nya : 



Tak terasa malam itu air mata ini meleleh , setelah sore hari masih sempat diskusi di mess Karanggayam membahas kelanjutan pendirian Koperasi Bonek Suporter Persebaya.

Kemarahan atau emosi jiwa ini semua karena bonek begitu mencintai Persebaya. Lima tahun lebih bonek mengerahkan semua yang dipunyai untuk kembalinya Persebaya.

Managemen yang sehat dan transparan

Dari pernyataan managemen terkesan bahwa bonek mau intervensi kedalam dan mendudukan bonek hanya sebagai penonton saja. 

Pandangan itu mungkin saja benar di era puluhan tahun silam , managemen sekarang dibutuhkan transparansi. Ada hubungan klub dan supporter yang tidak terpisahkan.

Klub tanpa supporter dan supporter tanpa klub sama-sama tiada arti. Keterkaitan langsung untuk kehidupan klub dan suporternya.

Jika dalam beberapa kesempatan ada inisiatif bonek untuk memiliki saham atas klub itu sebagai bentuk control internal supporter ke klubnya secara resmi.
Beberapa klub modern juga menerapkan hal tersebut saat ini. Jadi bukan hal yang tabu untuk melakukannya. Managemen PT.PI mestinya mengetahui hal tersebut.

Menghargai perjuangan

Sebagai klub besar dan juga memiliki supporter fanatik managemen seharusnya juga menghargai arti perjuangan. Membaca sejarah.

Ada sejarawan terkemuka Edmund Burke : “Siapa yang tidak pernah mengenal sejarah , maka dia akan mengulang sejarah itu”

Pahit manis apapun itu adalah pelajaran penting untuk generasi yang akan datang. Hormatilah para pendiri , legenda , pengurus sebelumnya dan tentu saja perjuangan supporter selama ini.

Jika tidak ingat , bacalah ,buka google ,baca arsip koran atau apapun. Semua sebagai pengingat bukan hanya symbol saja.

Komunikasi 

Hari Kamis 1 Oktober 2015 adalah hari dimana rencananya pusat perjuangan Arek Bonek 1927 akan di tutup alias vakum. 

Hal ini dilakukan karena sampai tulisan ini dibuat tidak ada komunikasi dari pihak managemen tentang klarifikasi pernyataan di media tentang bonek. Selama belum ada hal tersebut sepertinya semua akan vakum

Hanya dalam waktu semalam perjuangan selama ini akankah berakhir seperti ini ?
Jika semua pihak managemen mau membuka hati dan rasa , dengan jalan mendatangi bonek dan berbicara terbuka,semua pasti ada jalan.

Perjuangan tidak akan pernah berhenti

Slogan Tak Kan Ada Kata Lelah , masih kami pegang sampai kapanpun. Jika kami vakum bukan berarti kami menyerah.

Seperti kata Andie Peci , kami tidak mau dibenturkan dengan klub internal dan sesama bonek sendiri.
Semua lini dan di bidang masing-masing bonek tetep akan berjuang untuk Persebaya , bukan pengurusnya.

Kebahagiaan akan terwujud dari sekumpulan helai perjuangan yang panjang. Yakinlah .

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata  - WS Rendra 

Salam Satu Nyali.


Mess Karanggayam 29 September 2015.

Monday, August 31, 2015

Darah Bonek , Darah Pejuang dan Gerilyawan




Tiga hari sudah berlalu , Jumat sampai Minggu 28 – 30 Agustus 2015 kemarin arek bonek 1927 mengutip buku mas Fajar Junaidi sedang Merayakan Sepakbola dengan cara yang lain. Jika di prosentase mungkin mereka merayakannya hanya 10% dari yang sesungguhnya. Tapi itulah yang bisa dilakukan saat ini.

Sudah banyak berita , foto dan tulisan mengenai apa yang arek bonek 1927 (AB 1927) jalani selama tiga hari itu. Ada banyak gambaran antara sedih , haru , gembira , dongkol , semangat menyala , tak kenal menyerah , disengat matahari yang membakar kulit tentunya sangat banyak cerita yang bisa di kisahkan.

Surabaya di kenal banyak melahirkan dan menjadi tempat belajar para tokoh nasional baik itu dari sayap kanan , kanan luar , sayap kiri , kiri luar , striker atau penyerang tengah , playmaker , gelandang bertahan bahkan sampai penjaga gawang republik ini. Jauh sebelum republik ini terbentuk Surabaya telah menjadi kota atau tempat para tokoh tersebut belajar , bertukar pikiran dan melakukan pergerakan.


HOS Cokroaminoto

Sebuah nama besar yang sering dikatakan sebagai guru dari banyak tokoh pergerakan di Indonesia. Sebagai pemimpin organisasi modern Sarekat Islam beliau seringkali dijadikan guru untuk menimba ilmunya.

Bertempat di jalan kecil bernama Gang Paneleh VII, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, rumah Tjokroaminoto berada. Rumah itu bernomor 29-31 menjadi tempat kos beberapa muridnya. Beberapa tokoh tersebut sampai saat ini masih menjadi tokoh inspiratif bagi kebanyakan , baik yang di kiri ataupun yang di kanan.

Coba perhatikan baik-baik murid HOS Cokroaminoto ada Soekarno , Semaoen , Alimin , Kartosuwirdjo , bahkan di rumah beliau sering ada diskusi KH Ahmad Dahlan dan KH Mansyur tokoh yang dijadikan salah satu jalan di dekat Masjid Ampel.

Bahkan di era itu tokoh M Pamoedji dan mungkin juga Paijo merupakan tokoh yang sangat aktif dalam pergerakan baik kiri ataupun kanan. Tan Malaka pun sempat mampir di Surabaya.

Surabaya gudang tokoh revolusioner.

Dengan nama-nama diatas yang sangat tersohor tidak menjadi hal aneh jika AB 1927 secara tidak langsung sebenarnya juga bagian dari murid-murid beliau di level yang berikutnya.

Dalam tradisi kita biasanya ilmu apapun akan ditularkan kepada anak-anaknya atau anak muda di generasinya untuk menjadi bekal pelajaran di generasi akan datang. Jadi tidak aneh jika pergerakan AB 1927 dari awal sampai saat ini diisi oleh arek-arek dengan posisi yang berbeda-beda.Karena mereka terdiri dari berbagai macam murid dari guru yang berbeda.

Keberagaman yang saling menguatkan walaupun selalu diselingi diskusi yang panas dan rumit dalam memutuskan suatu aksi massa. Wajar karakter arek selalu meledak-ledak khas anak pantai yang udaranya menyengat.


Bung Tomo , Ruslan Abdoel Gani , Soemarsono

Di generasi berikutnya tidak afdol kalau tidak menyebut tokoh seperti Bung Tomo , Ruslan Abdul Gani , Sumarsono . Dua tokoh diatas sempat jadi cameo di film animasi Battle of Surabaya yang saat ini masih di putar karya anak-anak muda Amikom Yogyakarta.

Masa itu adalah saat arek-arek Surabaya dimana mereka sedang mempersiapkan , dan mempertahankan kemerdekaan. Yang membaca naskah proklamasi juga arek Surabaya dan murid HOS Cokroaminoto. Peristiwa 10 Nopember 1945 tidak akan pernah dilupakan oleh warga kota ini.

Perang gerilya di dalam kota. Ya.. Surabaya saat itu sudah menjadi kota pelabuhan besar dan banyak gedung – gedung megah. Maka perang kota adalah kunci.

Dari para tokoh ini AB 1927 diajari semangat dan aturan tak tertulis tentang perang kota dalam versi sesungguhnya yang dimodifikasi dengan saat ini untuk arti “perang” nya.


------

Jika dulu di tahun 1945an arek-arek berperang kota dengan cara merebut dan menduduki segala macam gedung dan fasilitas milik pemerintah kolonial seperti digambarkan oleh buku-buku sejarah. Perlawanan ini sebagai simbol bahwa arek-arek menolak untuk tunduk dan memilih jalan melawan terhadap mereka.

Maka tak salah jika AB 1927 dalam tiga hari kemarin mereka menduduki dan meminta sikap kepada perwakilan dari Mahaka Sports yang ada di Surabaya untuk menyampaikan sikap bonek menolak jika Piala Presiden 2015 diikuti oleh klub dengan nama Persebaya United .

Jika kemarin ada yang bilang kenapa bonek ke Hanamasa , mau minta makan ya ? Bonek hanya senyum saja , mungkin yang berkata begitu belum tau perjuangan dan tentang symbol. Perlawanan itu juga tentang symbol-symbol. Baik itu bendera , kantor , radio dan lain-lain.

Mahasiswa yang menentang USA misalnya mereka akan mendatangi kedubes atau konsulat mereka , bisa juga ke restoran yang merepresentasikan mereka seperti Mc Donald dan sebagainya. Tidak mungkin mereka langsung ke Negara yang dituju. Itulah perjuangan tentang symbol-symbol.

Perlawanan akan terus berlangsung , mungkin saja nanti akan berganti strategi lain yang lebih tinggi. AB 1927 akan menaikkan level perlawanannya. Menduduki markas tim yang bernama Persebaya United dan mengusir penghuninya dari kota pahlawan ini.

Bonek memiliki darah pejuang dan gerilyawan. Tak kan ada kata lelah dan menyerah. Bendera telah dikibarkan dan tidak akan pernah di turunkan. Sayap kiri , Sayap Kanan,Striker,Playmaker, Gelandang serang , bek kiri kanan dan kiper  telah siap untuk untuk menyerang dengan formasi 4 – 3 – 3 .

Ijinkan saya mengutip petikan twit dari @zenrs :


Darah bonek darah Gerilyawan , Diam Mempesona Bergerak Menggairahkan.

Monday, August 24, 2015

Bonek Mendukung 100% Piala Presiden 2015




Sepakbola tidak akan pernah mati. Segala bentuk , cara , dan tempat bermain bola bisa dicari dimanapun kita berada. Bergembira bersama menendang bola.

Saat ini sedang berlangsung turnamen Piala Kemerdekaan yang diselenggarakan oleh tim transisi melalui EO nya. Sudah berlangsung beberapa partai dan masih saja banyak permasalahan baik di pengelolanya maupun di lapangan. Peserta turnamen ini sebagian besar dari Divisi Utama.

Sisi lain mulai tanggal 30 Agustus 2015 akan dimulai juga turnamen Piala Presiden yang di selenggarakan oleh PT. Liga Indonesia melalui EO PT. Mahaka Sports. Turnamen ini diikuti sebagian besar oleh bekas tim Indonesia Super League.

Dari dua turnamen diatas , untuk Piala Presiden rencananya juga akan di supervisi oleh tim transisi bentukan Kemenpora. Saya melihat saat sedang mengelola turnamen yang diselenggarakan sendiri saja dalam hal ini Piala Kemerdekaan tim transisi masih banyak masalah yang terjadi.

Kejadian-kejadian tentang wasit , dan operator lapangan menjadi hal mencolok. Bahkan yang juga cukup mengganggu adalah tersiarnya berita bahwa match fee setiap pertandingan untuk tiap tim masih belum dibayarkan secara penuh sesuai yang dijanjikan di awal. Ada apa ? Anggaran belum ada ? Atau anggaran sudah ada tapi takut menggunakannya ?

Permasalahan diatas terus akan menggelinding sampai Piala Kemerdekaan selesai , jika tidak di selesaikan secara cepat dan benar makan masalah ini akan jadi bom waktu buat tim transisi. Apalagi mereka juga akan merencanakan Konggres Luar Biasa PSSI.

Di pihak lain Piala Presiden yang rencananya akan di buka di stadion Dipta Bali oleh Bapak Jokowi juga menghadapi hal serius. Apa itu ?

Bonek 100% Dukung Piala Presiden

Seperti saat PT.Liga Indonesia menghentikan gelaran kompetisi lalu , masalah dua klub Arema dan “Persebaya” masih mengganjal. Di Surabaya arek bonek 1927 sebenernya mendukung 100% di gelarnya turnamen Piala Presiden ini.

Diakui atau tidak bonek pun walau tim kebanggaannya masih di perjuangkan tetaplah mengikuti dan menyaksikan pertandingan sepakbola walau sebagian besar mungkin hanya lewat televisi. Jikalau pun ada yang ke stadion mereka hanya menikmati sepakbola bukan mendukung salah satu klub.

Hal lain yang dilakukan arek bonek di stadion adalah menjadikan altar tribun sebagai panggung untuk menyuarakan protes ke berbagai pihak untuk menyelamatkan Persebaya dengan membentangkan spanduk di berbagai stadion di Indonesia.

Masalah bagi arek bonek adalah ketika Tim Transisi , BOPI tetap memberikan rekomendasi kepada Mahaka sebagai EO nya dengan tetap meloloskan tim dengan lain. Sudah dari awal arek bonek mengirim surat ke mereka yang isinya menolak jika ada nama klub yang membawa nama Persebaya beserta semua yang menempelnya dalam hal ini logo klub.

Logo klub yang dipakai timnya Pak Gede adalah logo milik Persebaya Surabaya. Dan nama Persebaya sendiri masih dipersengketakan di Pengadilan Negeri Surabaya , masih dalam proses persidangan. Tentu saja dengan hal tersebut bonek sudah sewajarnya menggugatnya. Bukan menolak turnamen tersebut tapi mempermasalahkan klub membawa nama dan logo Persebaya. Sederhana.
Tanggal 20 Agustus 2015 tersiar berita bahwa nama yang mau ikut turnamen Piala Presiden sudah berganti menjadi Persebaya United. Cukup mengagetkan dan menggelikan . Secara nama sudah berubah akan tetapi tetap menempel nama Persebaya. Sedang logo yang dipakai masih logo yang lama.

Semua terlihat dari media promo di twitter @IndosiarID dan @PialaPresidenID semua masih menampilkan nama Persebaya dengan logo lama.

Reaksi Bonek

Setelah mendengar kabar tersebut arek bonek 1927 segera merapatkan barisan untuk menyikapi hal tersebut. Hal ini juga semakin dipanaskan oleh ungkapan petinggi Mahaka bahwa mereka mengabaikan bonek untuk terus maju dengan rencana mereka.

Hari ini 24 Agustus 2015 bonek akan berkirim dua surat. Satu surat pemberitahuan aksi kepada kapolda Jatim , Polrestabes Surabaya bahwa bonek akan melakukan aksi unjuk rasa di berbagai tempat yang merupakan anak bisnis dari Mahaka Grup yang berada di Surabaya.

Beberapa anak usaha yang akan dijadikan tempat menyampaikan pendapat tersebut antara lain , Hanamasa , Republika , Astra International , Pronto , Elektronic City ,Gen FM dan lainnya. Ijin yang akan  diajukan langsung 3 hari tanggal 28 – 30 Agustus 2015.

Surat kedua adalah ditujukan kepada Mahaka Grup selaku EO yang menyatakan bahwa Arek Bonek menolak Piala Presiden jika masih mengikutsertakan klub nya Pak Gede jika masih menggunakan embel-embel nama Persebaya dan logonya.

Untuk supporter klub lain , bonek meminta maaf , bukan bermaksud menggagalkan perayaan sepakbola itu sendiri. Bonek hanya menginginkan nama dan logo Persebaya tidak digunakan di turnamen apapun saat masalah unternal kami di pengadilan belum selesai.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya , akan menjadi solusi yang mujarab kalau pak Gede logowo dan berbesar hati untuk mengganti nama dan logo nya untuk kelancaran turnamen tersebut. Saling menghormati dan menghargai.

Ini masalah nama sebuah kebanggaan dan sejarah yang besar , untuk bonek layak dan wajib diperjuangkan. Bukan sekedar gebyar sepakbolanya , ini lebih dari sekedar sepakbola.

Bonek mendukung penuh perhelatan turnamen Piala Presiden 2015 ini dengan catatan tidak mengikutsertakan nama dan logo Persebaya baik yang lama maupun yang baru.

Bagaimana Bung Hasani Abdul Gani CEO Mahaka Sports ? 

Salam Satu Nyali.


Monday, August 10, 2015

Surat Terbuka buat Bapak Gede Widiade


Pak Gede Widiade yang terhormat ,

Saya nulis surat ini biar kayak kekinian membuat surat terbuka tentang unek-unek di kepala saya. Pak Gede , saya sangat mengerti bapak itu sangat “mencintai” sepakbola. Bapak yang mengaku arek Wonokromo selalu mengatakan “aku yo bonek”.

Kecintaan bapak sudah tidak diragukan lagi , sejak bapak ditunjuk oleh Saleh Imail Mukadar dan Cholid Ghoromah untuk memegang PT.Pengelola Persebaya Indonesia saat itu. Dengan berjalannya waktu dan berbagai suka dukanya bapak selalu bilang berkorban untuk sepakbola dengan iklas.

Masih sangat inget saya omongan dan statemen bapak di Hotel Simpang saat ada diskusi menyelamatkan Persebaya. Bapak sebagai pengusaha yang katanya sukses di Jakarta dengan gagah berani mengatakan saya telah berkorban untuk Persebaya dengan harta benda.

Pak Gede yang berhati mulia ,

Seiring berjalannya waktu posisi bapak sekarang ada di tim dimana tim tersebut sangat berbeda dengan yang dulu bapak kelola dengan gagah perkasa. Sebelum masuk tim sekarang bapak dengan bala kurawa dan pandawa nya berhasil “memiliki” dan “mengelola” sebuah tim di Kota Mojokerto.

Saat ini tim yang bapak kelola akan mengikuti sebuah turnamen yang diselenggarakan oleh PT. Liga Indonesia bertajuk Piala Presiden . Sebelumnya nama turnamen ini akan bernama Piala Indonesia Satu. Entah kenapa berganti nama. Mungkin habis buat bubur abang .

Pak Gede yang gagah perkasa ,

Bapak tau selama tim yang bapak kelola bermain di Surabaya kurang mendapatkan tempat di hati mayoritas bonek yang ada. Stadion hamper kosong bahkan saat tiket masuk di bagi-bagi ke masyarakat bahkan di “bagi” juga ke “sponsor”.

Bapak dengan pede nya memberi keterangan pers yang mengatakan bahwa tim bapak sekarang sudah diakuisisi oleh perusahaan bapak 100%. Artinya tim itu sudah milik bapak sendiri. Ok pak itu betul memang tim yang dimiliki dan dikelola oleh bapak.

Tapi pak , yang menjadi semacam ngganjel di saya adalah nama klub yang bapak kelola kenapa tidak ganti saja dengan misalnya Wonokromo FC , Rujak Cingur FC , Lontong Balap FC , atau bahkan bapak bisa hidupkan kembali seperti Niac Mitra , Mitra Surabaya tentu saja juga harus ijin pemilik lama kalau pakai itu.

Atau bapak membuat klub baru sebagaimana banyak kota dimana ada lebih dari satu klub. Kalau itu bapak lakukan saya yakin akan punya basis pendukung sendiri di kota Surabaya ini. Surabaya sudah punya pengalaman punya klub selain Persebaya.

Pak Gede yang bijaksana ,

Sebelum bergulirnya Piala Presiden saya berharap bapak membaca surat saya ini , saya yakin sebagai arek Wonokromo asli bapak tau karakter dan nyali arek Suroboyo. Bapak sebagai kelahiran Tuban mestinya juga bertindak dan berpribadi layaknya Ronggolawe yang ksatria. Bapak akan lebih terhormat mengurus rakyat saja sebagai wakil rakyat di DPR. (Jadi anggota dewan khan ?)

Untuk itu pak , segerakanlah membuat bancaan, selametan, tumpengan dan bubur merah putih , senyampang bulan Agustus ini buat nama klub baru bapak , sayembarakan kalau kesulitan tentunya bareng logo klub barunya nanti.

Saya akan ikut sayembara itu , pokoknya kalau menang saya gak akan ambil hadiahnya , biar hadiahnya besar bisa buat bayar tagihan para pemain saat bapak mengelola Persebaya .


Salam Satu Nyali 

Thursday, June 18, 2015

Cangkruk bersama Eri Irianto


Sudah lama keinginan untuk berkunjung dan menemui Eri Irianto salah satu legenda Persebaya ,akhirnya hari itu berangkat dari rumah pagi menaiki honda revo butut aku menyusuri jalanan Surabaya ke Krian. Karena masih sangat pagi aku memakai jaket agak tebal membalut kaos anniversary Persebaya warna hitam yang pesan di toko kaos baru berlogo mesin jahit singer ijo .Sesampainya di rumahnya aku cangkruk ambek Cak Eri ndek ngarep omahe .


Berikut sesi cangkruknya :

Aku ( A ) : Assalamualaikum Cak Eri , yo opo kabare ?

Eri Irianto (EI ) : Waalaikumsalam wr wb , Alhamdulillah apik cak . Suwe ora jamu cak tumben isuk2 wis tutuk kene iki

A : Iyo cak ,kangen sampeyan wis suwe gak nyambangi , mumpung sesuk wis posoan iki nyambung silaturahim

EI : Sek yo ta gawekno kopi ireng ben nyangkruk e tambah gayeng .

Eri Irianto masuk kedalam rumah membuatkan kopi ,dan saat keluar membawa baki berisi dua cangkir kopi satu kaleng besar Khong Guan biscuit legendaris dan satu piring telo rebus.

EI : Sak onoke yo cak maklum sek isuk durung budhal pasar , yo opo iki onok kabar opo ?

A : Gak opo2 cak biasa , sesuk iki PERSEBAYA ulang tahun ke 88 yo opo nurut sampeyan

EI : Wah iyo sampe lali aku , aku yo wis krungu sithik2 ruwete managemen klub, ta dungakno ae kabeh cepet mari karo isok mlaku maneh kompetisi internale

A : Sampeyan opo yo sek gelek ketemu konco2 lawas koyok Bejo,Uston,Jacksen,Mursyid cak ?

EI : Ketemu sih gak tapi sek sering ngobrol nang grup WA karo BBM , Bejo dadi pelatih porprov sing mari ajur ndek Banyuwangi , Uston Juragan Kuliner , Rawon ndek Malaysia , Cak Kimung yo dadi pelatih.

A : Wah ternyata yo update sampeyan cak……

EI : Iyo tapi sing susah updet iku arek saiki jarang sing nulis perkoro Persebaya,pemaine opo mantan pemaine. Onok o tulisan kadang teko penulis luar kota opo berupa berita/news.

A : Iyo cak sepurane , iki yo sek golek suhu2 bab ngono nang mas-mas Fandom,Pandit ben ngajari arek2 nulis ..

EI : Bener iku gak onok salahe ngangsu kawruh karo sing luwih ngerti,gak usah isin kanggo golek ilmu. Aku yo sering mbuka web e Fandom karo Pandit..apik

A : Ngene cak aku yo sek dolek foto-foto jaman sampeyan main sing apik kok angel dolekane yo

EI : Yo pancen angel soale jaman biyen tukang motret iku sek jarang sing kamerane apik seje ambek jaman saiki. Iku fotografer terkenal si Meksum fotone apik2

A : Wah sampeyan gaul cak yo kenal Meksum, dek ne iku omongane thas thes tapi kamerane bertele-tele. Opo maneh nek ndek lapangan wis nggawe Topi abang nggowo rangsel

EI : Makane iku gawe generasi sesuk mulai arsipen foto2 Persebaya plus tulisen opo ae ben gak ilang dalane kanggo anak putu .

“Sambil ngobrol disambi nyruput kopi karo mbuka Khong Guan yang ternyata isinya rengginang hahahahahaha……”
Terdengar di dalam rumah keluarga Eri Irianto ada sedikit tawa,mungkin mereka merasa gembira ada yang masih eling ambek anaknya dan nyambangi.

A : Sampeyan kok gak tau sambang mess cak betah banget ndek kene ?

EI : Yo opo gak betah ndek kene kabeh enak2 cewek e uayuuu uayuuu  sembarang gratis fasilitase ..wifi gratis tlecekan , angkot gratis full ac kurang opo maneh …

A : Onok sopo ae konco sampeyan ndek kono cak kok betah

EI : Akeh onok Abah Rusdi Bahalwan , Rae Bawa , Pak Agil H Ali , Pak Ali Mahakam …

A : Cak ape takok opo bener biyen pas jaman sampeyan ndek mess iku yo beredar obat2an sing nggarahi gedeg2 ? sepurane lho cak …hehehe

EI : Hahahaha krungu ae sampeyan crito iki …wis gak usah dibahas engko bengi wayahe tarawih trus tadarusan ndek langgar
Oh iyo jersey ku seing ndek mess jare arek2 kok gak tau di resiki , diumbah,disetriko di kei minyak wangi trus di pajang maneh

A : Iyo cak iki ,sepurane ,bener nek jersey sampeyan selawase gak tau diumbah yow is pancet ndek nggone kono,ketok kotor opo maneh piala-piala sing ndek lemari koco.

EI : Walah emane rek iku hasil kringete senior2 legenda biyen angel entuke biyen,yo mugo2 ngko nek wis normal onok sing gelem ngurusi hal-hal iku

A : Arek-arek Bonek Campus wis arep mulai ndata kabeh piala ,foto,barang2 liyane ndek mess cak,mugo-mugo ae ndang digarap dilebokno data administrasi sing rapi

EI : Nah ngunu lah sebagai bonek sing sekolah duwur isok ngajari adik2e ben peduli hal-hal ngunu iku.

A : Iki wis mulai awan cak aku tak pamit yo cak,suwon wis akeh critane karo ngancani ngobrol,kabeh iki aku yakin onok gunane kanggo Persebaya mbesok..

EI : Lha kok kesusu tak pikir arep turu kene opo pindah mrene cak

A : Hahahaha moh cak aku sek onok sing ngancani ndek omah onok sing masakno masio kadang utang tonggo

EI : Nek ngunu sing kesuwen jomblo ae kon pindah mrene akeh pasangan gratis

A : Terakhir cak mene Persebaya ulang tahun opo harapan e sampeyan

EI : Persebaya ndang tangio , gawe en bangga Suroboyo karo prestasimu ,wis ngunu ae SELAMAT ULANG TAHUN KE 88 PERSEBAYAKU ,EMOSI JIWAKU.

A : Ok cak suwon ya …aku ta mbungkus rengginange yo …

EI : Gowoen kabeh ae tp ojok ambek kalenge di kreseki ae…oh iyo salam kanggo mas potografer ganteng Mas Meksum ya..nek durung duwe pasangan kon pindah mrene ae ..akeh gratisan plus doorprize kulkas

A : Siap tak sampekno salame ..Assalamualaikum cak

EI : Walaikumsalam…

Bergegas ke halaman depan memakai helm dan penutup muka langsung nyengklak motor meninggalkan “rumah” sang legenda Persebaya dan kembali ke Surabaya

*Jika ada kesamaan nama dan lokasi ini adalah kesengajaan dari penulis*


Wednesday, April 29, 2015

Persebaya mau kemana setelah bangkit ?



Tepat tanggal 18 April 2015 lalu ketika berlangsung Konggres Luar Biasa PSSI di Hotel JW Marriot Surabaya juga ada aksi besar bonek yang mengatasnamakan Arek Bonek 1927 yang merupakan pendukung klub Persebaya (1927). Dalam aksi tersebut bonek membawa 3 tuntutan besar yang ditulis di satu spanduk sepanjang tiga meter berisi tiga tuntutan Bonek, yaitu mendukung Presiden RI melawan mafia FIFA demi kedaulatan Indonesia, mendukung Menpora dan BOPI tegas terhadap PSSI dan PT Liga Indonesia, serta kembalikan hak-hak PT Persebaya Indonesia.

Selepas adzan dhuhur waktu Surabaya massa aksi yang berkumpul di tengah teriknya matahari yang sangat menyengat diatas jalan beraspal dan di pagari gedung-gedung bertingkat di kiri kanan jalan Embong Malang tiba-tiba terdiam. Mereka mendengarkan sebuah orasi dari atas truk pengangkut sound system dari salah satu koordinator aksi yaitu Cak Andie Peci demikian biasa dipanggil. Dengan suara gemetar dan terpatah-patah ditengah keheningan massa yang bersimbah keringat panas Andie Peci membacakan berita yang diterima dari Jakarta yang terlihat dicatat di kertas kecil digenggam di tangan kiri sementara tangan kanan memegang mic. Berita yang dibaca adalah tentang Surat pembekuan bernomor 01307 tahun 2015 yang intinya adalah pembekuan segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi PSSI tidak diakui oleh pemerintah. Tanpa dikomando sontak kabar ini disambut peserta aksi dengan suka cita tawa tangis serta sujud syukur dijalan raya , terlihat banyak airmata meleleh ditengah derasnya keringat di wajah dan badan mereka melawan panasnya matahari Surabaya yang terkenal cukup panas.

Adanya pembekuan PSSI sendiri sebenarnya bukanlah dari tujuan bonek itu sendiri karena secara nyata dan seharusnya mereka wajib melanjutkan pengawalan tentang perjuangan mengembalian Persebaya sesuai keyakinannya bahwa Persebaya yang ada harusnya yang berada di bawah manajemen PT Persebaya Indonesia. Dalam kasus ini mereka sudah melayangkan surat pendaftaran gugatan ke Pengadilan Negeri Surabaya. Surat gugatan itu didaftarkan ke Pengadilan Negeri Surabaya dengan nomor 241/Pdt G P/2015 tertanggal 23 Maret 2015. Dalam surat gugatan tersebut ada dua pihak yang tergugat ,mereka adalah PT Mitra Muda Inti Berlian beralamat di Serenity Kavling 11 Semolowaru, Surabaya selaku pengelola Persebaya ISL, disebut sebagai tergugat satu dan PSSI sebagai tergugat dua.

Persebaya sebagai bekas klub perserikatan di era lama memang mempunyai banyak hal khas yang unik dan rumit untuk tidak menyebut komplek disaat era sepakbola modern ini sebagai sebuah klub professional. Sudah banyak tulisan tentang sejarah terbentuknya Persebaya dan juga tentang terbentuknya PT Persebaya Indonesia sebagai badan hukum yang menaungi Persebaya di era professional. Tentang komposisi saham yang diketahui adalah 55 persen dimiliki oleh Saleh Ismail Mukadar , 25 persen oleh Cholid Ghoromah dan 20 persen oleh Koperasi Mitra Surya Abadi yang diketuai oleh Suprastowo. Koperasi tersebut dimiliki oleh 30 anggota klub internal Persebaya atau Pengcab Kota Surabaya.

Disaat menunggu proses pengadilan yang sangat mungkin akan berlangsung panjang dan melelahkan ada baiknya jika pengurus manajemen yang ada dan bonek dalam hal ini bisa memulai memikirkan berbagai hal untuk menyiapkan klub dimasa depan. Teori manajemen olahraga dan manajemen klub bola sudah banyak untuk dipelajari beserta contoh klub yang akan dijadikan acuan belajar dari berbagai aspek. Sebelum masuk kesana tidak ada salahnya mengoreksi ke dalam tentang hubungan dan posisi klub internal dalam hal kepemilikan sebelumnya beserta hak dan kewajibannya.

Dengan asumsi semua 30 klub masih solid dibawah PT Persebaya Indonesia , pertama adalah apakah 30 klub itu nyata adanya dan punya kegiatan pembinaan secara kontinyu walau hanya berupa SSB atau Sekolah Sepak Bola. Sepengetahuan penulis tidak semua klub itu berkegiatan secara rutin dan hanya berupa papan nama sebagai klub yang “ikut” memiliki Persebaya melalui kepemilikan saham di koperasi. Selama ini dalam prakteknya beberapa klub memang menyerahkan pemainnya untuk Persebaya dengan kompensasi dana pembinaan ke klub asal. Untuk penyertaan modal secara riil dari tiap klub penulis belum bisa memperoleh data resmi ada atau tidaknya mereka sebagai pemegang saham juga ikut menyertakan modal dana untuk memutar roda Persebaya. Dalam hal ini adalah hak dan kewajiban klub internal terhadap kepemilikan saham harus jelas dan tertuang dalam anggaran dasar dan rumah tangga yang baru nanti. Karena sebagai bekas klub perserikatan mau tidak mau harus tetap merangkul klub internal sebagai bagian dari sejarah panjang klub , walaupun sebenarnya jika ditelaah secara mendalam tidak ada kewajiban melibatkan mereka kalau dilihat dari sisi manajemen modern sepakbola.

Dalam diskusi "Selamatkan Persebaya" di Hotel Inna Simpang, Surabaya, Sabtu, 9 Februari 2013 beberapa tahun lalu seorang penulis asal Bandung Zen RS memberi istilah “manajemen saweran” untuk klub yang berasal dari perserikatan tidak terkecuali Persebaya. Dalam pemahaman ini adalah manajemen klub dikelola atau mendapatkan modal dana dari saweran beberapa donator dengan berbagai kepentingannya. Belum berupa ikatan kerjasama seperti dengan sponsor untuk durasi lama dan partner kerja. Begitu pula peran klub internal wajib diperjelas.

Saleh Ismail Mukadar sudah berjanji jika semua proses pengadilan sudah selesai apapun hasilnya dia akan mundur dari manajemen PT Persebaya Indonesia , untuk itu pasti akan ada RUPS penggantian Komisaris Utama dan pemilihan struktur yang baru untuk mengelola klub nanti. RUPS ini sejatinya sangat penting untuk menentukan kearah mana dan model kepemilikan klub bagaimana yang akan mereka pilih nanti. Ada beberapa opsi yang bisa di pilih nanti untuk pengelolaan klub Persebaya ini.Sebelum ke opsi tadi di RUPS juga sudah ditentukan komposisi pemegang saham terbaru atau bahkan ada pemegang saham baru.

Pengalaman pahit saat pengelolaan Persebaya diserahkan oleh PT Persebaya Indonesia ke konsorsium yang dipimpin Arifin Panigoro lewat bendera PT Pengelola Persebaya Indonesia jangan sampai terulang , semua harus tercatat dan transparan hak dan kewajibannya.

Beberapa opsi itu misalnya satu dikelola sepenuhnya oleh perwakilan klub internal yang ditunjuk dan dipilih ketua , kedua adalah membuat presidium yang juga melibatkan supporter dalam hal ini bonek beserta klub internal atau membuat koperasi, ketiga adalah dikelola oleh BUMD Kota Surabaya yang dibentuk khusus untuk mengelola Persebaya dan keempat adalah dijual 100% ke pihak lain.

Opsi Pertama

Semua manajemen yang akan mengelola Persebaya berasal dari klub internal dengan asumsi pertama yaitu dalam RUPS sudah ditentukan pemegang saham terbesar masih di klub internal. Dari 30 klub internal itu ditunjuk beberapa orang untuk secara full time bekerja di PT Persebaya Indonesia mengurusi semua hal. Jika dilihat dari para pemilik klub internal di Persebaya sangat jarang atau bahkan sedikit sekali yang punya pengalaman mengelola klub professional dan mengikuti kompetisi sepakbola tanah air. Ini salah satu kelemahan dalam opsi pertama ini , disamping punya kelebihan mereka akan lebih tau tentang sumber daya pemain dari internal klub. Juga harus ada paradigma baru dari klub internal agar tidak “menyusu” ke perusahaan pengelola Persebaya ini agar semua bisa bekerja secara professional dan tertata rapi serta sehat. Selama ini seperti di era perserikatan kebanyakan klub internal masih membebani ke Persebaya padahal saat ini harusnya Persebaya secara organisasi sudah terpisah dari klub internal. Klub internal hanya sebagai pemilik saham saja , dan kepemilikan ini tidak hanya berupa nama jika diperlukan ada penyertaan modal entah berupa apa saja. Jadi disini yang dimaksud adalah Koperasi Mitra Surya Abadi membeli atau mempunyai saham mayoritas di PT.Persebaya Indonesia. 



Opsi Kedua 

Yaitu berupa presidium dimana kepemilikan klub bisa diwujudkan dalam sebuah koperasi atau sejenisnya dimana anggotanya bisa dari bonek beserta klub internal tadi. Semua anggota mempunyai kewajiban membayar iuran per tahun yang jumlahnya telah ditentukan dan disepakati bersama. Cara ini bisa meniru secara perlahan bisa belajar dari model Barcelona klub peserta liga Spanyol. FC Barcelona merupakan organisasi sepakbola yang lebih dari sekedar klub. Dari anggota yang terdaftar dipilih beberapa orang untuk mengelola klub secara professional dalam periode tertentu , missal 3 tahun atau lima tahun akan berganti pengurus kecuali mereka terpilih kembali dalam pemilihan presidium baru oleh anggota. Selain dari iuran anggota sebagai sumber pendanaan klub , presidium juga bergerak mencari sumber pendanaan lain lewat manajemen baik dari sponsor,hak siar,merchandise klub dan lain sebagainya. Presidum atau pengurus klub disini hanyalah pelaksana dari roda klub karena kekuasaan terbesar ada di tangan anggota. 

Di model opsi ini ada peran serta aktif bonek sebagai supporter Persebaya mempunyai peran yang signifikan untuk keberlangsungan hidup klub itu sendiri baik sebagai anggota biasa ataupun terpilih di pengurus klub. Artinya suara bonek juga ada atau masuk dalam setiap pengambilan keputusan tentang jalannya klub. Ada tanggung jawab moral juga disini bahwa bonek yang jadi anggota juga harus bertanggungjawab terhadap klub. Kalau ini yang dipilih akan jadi sejarah besar bagi klub dan bonek. Bonek akan ikut aktif dan mau tidak mau harus mulai belajar bagaimana mengelola klub secara riil terlibat langsung dengan kontrol oleh bonek sendiri yang berada di luar kepengurusan dan tidak jadi anggota. Artinya ini salah satu peluang bonek ikut memiliki klub bukan hanya sebagai supporter tapi secara legal menjadi pemilik klub. Jadilah Persebaya bukan hanya sebuah klub.



Opsi Ketiga 

Pilihan ini sangat menarik kalau dilihat dari sejarah Persebaya dan pemerintah kota Surabaya itu sendiri. Jika di masa perserikatan Persebaya sedikit banyak ada campur tangan pemerintah kota melalui pengurus cabang PSSI kota Surabaya dan walikota nya. Keterlibatan pihak pemkot banyak ke soal pendanaan operasional klub Persebaya itu sendiri. Saat kran APBD sudah tidak bisa lagi dipakai untuk sepakbola dan klub harus berbadan hukum mulai dari situ hubungan Persebaya dengan pemerintah kota sudah lepas. Salah satu opsi untuk bisa ikut lagi mengelola klub sepakbola secara langsung walau tetap tanpa APBD Pemerintah kota bisa mengambhil alih kepemilikan PT Persebaya Indonesia secara keseluruhan ataupun mayoritas lewat BUMD yang dibentuk pemkot. Cara ini sudah akan dilakukan oleh Gubernur DKI Ahok lewat BUMD JakPro yang akan membeli saham Persija. Model ini sepertinya menjadi opsi terbaik untuk tetap menempatkan Persebaya dan Bonek sebagai salah satu ikon kota Surabaya itu sendiri. Memang akan sangat rumit sekali menilai nominal dari saham yang ada terutama yang dari klub internal karena mereka hanya pasang nama klub. Ada pilihan yaitu saham kepemilikan dari Saleh Ismail Mukadar dan Cholid Ghoromah diambil , artinya BUMD nanti sudah menguasai mayoritas saham Persebaya yaitu 80% saham sisanya yang 20% saham tetap dimiliki koperasi klub internal. Dimasa momen pilkada ini memang sangat dilematis untuk berhubungan dengan institusi pemerintah , tapi ini adalah salah satu opsi terbaik untuk Persebaya. Jika opsi ini dipilih harus ada komunikasi terbuka antara manajemen sekarang dengan pemerintah kota. Sampai saat ini belum ada ketertarikan baik pihak pemkot maupun manajemen sendiri. 

Nilai positif lain dari kepemilikan lewat BUMD adalah rumah Persebaya tidak akan pindah dari Surabaya dan Persebaya akan menjadi ikon resmi pemerintah kota Surabaya. Tapi ada juga nilai yang kurang baik seperti lebih dekat dengan pemerintah kota yang secara politis bisa jadi langsung ataupun tidak langsung akan selalu berhubungan dengan semua tindakan politik penguasa kota. Belum lagi nanti aka nada pro kontra antara eksekutif dan legislative kota tentang pembentukan BUMD itu sendiri. Masih panjang jalan menuju itu diperlukan keyakinan baik dari pemkot,DPRD, dan manajemen sekarang untuk duduk satu meja demi satu nama Persebaya.



Opsi Keempat ,

Diluar ketiga opsi tadi ada pilihan lain atau keempat yang sepertinya akan banyak pertentangan di internal yaitu 100% saham atau mayoritas dikuasai sebuah korporasi atau perusahaan besar. Kekhawatiran terbesar mungkin ada di bonek jika Persebaya dipindah home base keluar Surabaya. Ini bisa dimaklumi karena bonek ada juga karena ada Persebaya begitu juga sebaliknya. Tapi hal ini bisa dihindari jika diawal peralihan kepemilikan bisa ditegaskan bahwa Persebaya tetap di Surabaya.Di era sepakbola modern menuju sebuah industri olahraga opsi ini adalah hal wajar di dunia persepakbolaan utamanya masalah hal kepemilikan sebuah klub. Untuk kebaikan dan kelangsungan hidup dan keberlangsungan klub opsi ini juga tidak ada salahnya jika nanti bisa dipilih.



Akhirnya ,

Jadi apapun pilihan opsi yang akan dipilih nanti tidak jadi masalah apabila semua dilakukan secara transparan terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara tertulis. Sebagai supporter bonek bisa sebagai pihak pengontrol aktif agar semua berjalan di arah yang sebenarnya.Bonek juga harus mulai realistis dalam hal ini jika nanti sudah memilih salah satu opsi diatas , maka harus diutamakan adalah kelangsungan pengelolaan roda manajemen dan keuangan klub. Tidak perlu dulu menuntut berprestasi juara yang penting adalah jalannya klub. Gaji lancar , anggaran realistis , semua sisi manajemen digarap dengan hati ,professional dan transparan. Kontraklah pemain dari internal klub dulu dengan harga wajar agar keuangan tetap sehat. Yakinlah jika semua bersikap terbuka dan mau menerima masukan dari berbagai pihak dan bekerjasama semua akan menjadi lebih baik.

Jangan pernah terlambat untuk memikirkan hal ini , akan percuma hasil di pengadilan positif jika setelah itu belum tau dan siap dengan apa yang harus diperbuat belum dipikirkan dan dipersiapkan mulai sekarang.

Jika sudah pernah mati dan kemudian hidup lagi maka hiduplah trus jangan pernah mati lagi .Semoga kita semua bisa kembali menikmati dan “Merayakan Sepakbola” meminjam judul buku Fajar Junaedi penulis buku Bonek.

Sudah siapkah sebuah klub bernama Persebaya bangkit dari tidurnya dan bisa hidup lagi untuk selamanya ?

“Persebaya lebih besar dari yang Kau kira” – Bajulijo.net