Wednesday, May 23, 2012

Museum (Persebaya) sebuah impian .....


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” – Pramoedya Ananta Toer

          Foto : http://dennybolang.wordpress.com

PERSEBAYA ya Persebaya begitu jawaban hampir semua orang ketika diajukan sebuah pertanyaan “apa nama klub sepakbola di Surabaya?”. Ya jawaban itu tidaklah salah dengan reputasi dan prestasi secara Nasional yang telah mengoleksi 5 kali juara di era Perserikatan dan 2 kali juara di era Liga Indonesia.

Sebuah sejarah yang cukup panjang untuk menceritakan dan melukiskannya betapa besar nama sebuah Persebaya. Suka duka tawa tangis bahagia dan sedih merupakan sebuah rangkaian yang dialami para pahlawan bola dengan segala pengorbanan mereka.

Mencari data catatan,buku,biografi atau apapun mengenai Persebaya dan para pahlawannya saat ini sangat sulit kita temui bukan karena sudah jarang akan tetapi sepengetahuan saya tidak ada yang menulis atau mengumpulkan bukti sejarah secara kolektif. Sampai saat ini saya masih belum bisa memahami atau mengerti kenapa banyak penulis handal belum membuat sebuah biografi atau menulis tentang sejarah panjang Persebaya ini secara khusus . Semoga dalam waktu yang tidak lama akan muncul penulis atau buku tentang pemain legenda dan Persebaya itu sendiri.

“Sesungguhnya manusia tidak sama sekali bersalah, karena ia tidak memulai sejarah. Tapi juga tidak sama sekali tanpa salah, karena ia meneruskan sejarah”.- Albert Camus

Sebagai sebuah klub besar kita wajib dan harus selalu mengenal dan menghargai sejarah baik itu pemain,peristiwa,benda atau apapun yang berkaitan dengan sejarah itu sendiri. Untuk itu saya memimpikan sebuah tempat dimana tempat tersebut sebagai suatu ajang berkumpul buat para pecinta dan pemerhati sejarah Persebaya dan juga sebagai tempat penyimpanan barang memorabilia apapun yang berkaitan dengan klub ini.

Tujuan dari tempat yang lebih terkenal dengan sebutan museum adalah sebagai sarana belajar menghormati dan member tempat terhormat bagi para pahlawan dan legenda Persebaya dan juga sebagai ajang belajar untuk generasi yang akan datang.

Ditempat tersebut nanti akan menyimpan beberapa barang misalnya ,bekas jersey pemain,sepatu,sertifikat,medali ,potongan tiket dan apapun yang bisa dikategorikan sebagai sejarah sebuah klub besar bernama Persebaya. Saya mengharapkan semua pihak bisa berpartisipasi dan gotong royong sumbang saran dan apapun untuk mewujudkan ini karena ini akan menjadi suatu pekerjaan besar untuk sesuatu yang mungkin tidak besar tapi saya yakin akan berguna bagi generasi yang akan datang dan kebanggaan bagi Persebaya pada khususnya dan Kota Surabaya pada umumnya.

“Belajarlah dari masa lalu tuk memperoleh pelajaran untuk hari ini, dan dari pelajaran hari ini untuk hidup yang lebih baik di masa depan”. – Anonim





Tuesday, May 15, 2012

Menghitung Masa Depan Persebaya (2-Habis)


 
sumber : http://dahlaniskan.wordpress.com

10 Maret 2008

Catatan Dahlan Iskan

Mengapa di Persebaya ini “yang memiliki tidak mampu dan yang mampu tidak memiliki”?
Penyebabnya sangat mendasar. Dan, celakanya, hal itu hanya akan bisa dipahami oleh orang yang selalu peka terhadap adanya perubahan zaman.


Orang yang pikirannya tradisional bukan hanya tidak bisa memahaminya, bahkan pasti akan menolak. Jadi, penjelasan yang akan saya sampaikan ini pun mungkin juga hanya akan bisa dipahami justru oleh orang-orang yang berada di luar klub-klub pemilik Persebaya.

Penyebab mendasar itu adalah bentuk organisasi klub-klub pemilik Persebaya tersebut. Bentuk “klub” atau “persyarikatan” atau “perkumpulan” memiliki kelemahan yang mendasar dilihat dari segi tiadanya otoritas yang tegas.

Dalam sebuah klub, atau persyarikatan, atau perkumpulan, hak semua anggota sama. Tanggung jawabnya sama. Memang, ada mekanisme “suara terbanyak” dalam proses pengambilan keputusannya, tapi tidak memiliki konsep “exit” yang mudah.

Mekanisme “suara terbanyak” tidak bisa meredakan konflik terselubung. Sebab, kalau yang tidak setuju mencapai lebih dari 30 persen, meski tetap kalah, kekalahannya membawa kekecewaan yang menghambat kemajuan klub.

Konsep suara terbanyak sendiri sebenarnya sudah bertentangan dengan filsafat dasar sebuah klub, atau persyarikatan, atau perkumpulan yang semestinya mengutamakan persaudaraan, kebersamaan, dan kesepakatan. Bukan voting-votingan. Zaman dulu, konsep kekerabatan dan persaudaraan memang sangat cocok karena tantangan juga belum banyak.

Tapi, dengan berubahnya zaman, konsep seperti itu sudah tidak cocok lagi. Itulah sebabnya, belakangan bentuk seperti klub dan perkumpulan tidak diakui lagi sebagai “badan hukum”. Bahkan, CV pun sudah tidak diakui lagi sebagai badan hukum.

Tapi, saya tidak membicarakan segi keabsahannya sebagai badan hukum. Saya mau mengemukakan bahwa bentuk perkumpulan memang tidak mungkin bisa membawa kemajuan.
“Zaman baru” memerlukan pembagian tanggung jawab yang jelas. Bentuk persaudaraan dan perkumpulan secara mendasar tidak bisa menjawab rumusan pembagian tanggung jawab itu.

Saya sering ke terminal. Tentu saja amat kotor dari sudut pandang pelayanan modern sekarang. Di tembok terminal sering saya lihat tulisan “Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama”. Setelah membaca tulisan itu, apakah semua orang merasa bertanggung jawab atas kebersihan terminal? Tidak!
Justru tidak ada yang merasa bertanggung jawab. Karena itu, di sekitar tulisan tersebut justru terlihat kekotoran.

Kebersihan terminal mestinya bukan tanggung jawab bersama. Kebersihan terminal adalah tanggung jawab bagian kebersihan! Kalau bagian kebersihannya tidak jalan, itu menjadi tanggung jawab kepala terminal! Kalau ada kepala terminal menyuruh menempelkan tulisan “Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama”, itu artinya kepala terminalnya ingin tidak bertanggung jawab!

Bentuk klub atau perkumpulan kurang lebih mirip itu. Mengapa CLS sebagai klub basket yang hebat di Surabaya tidak pernah menjadi juara nasional? Antara lain, juga karena berbentuk perkumpulan.
Maka, kalau tetap mempertahankan bentuk klub, sudah diketahui bahwa masa depannya tidak ada lagi. Bisa jalan di tempat sudah amat baik. Dan, kalau Persebaya dimiliki klub-klub, lebih susah lagi. Klubnya saja sudah susah, apalagi Persebayanya.

Memang, Persebaya masih bisa maju. Tapi, sifatnya sangat temporer. Tidak bisa diproyeksikan. Kalau pas ada orang yang gila, tercapailah kemajuan itu. Kalau yang gila sudah waras, mundur lagi dan banyak problem lagi. Kalau yang gila sudah waras, harus mencari yang gila lagi. Nah, apakah kita akan selalu bisa mencari orang gila?

Mungkin saja kita akan selalu menemukan orang gila. Apalagi gila yang dibuat-buat saat Persebaya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Apakah saya setuju Persebaya menjadi PT? Saya tidak setuju pun, Persebaya harus menjadi PT! Pilihannya hanya menjadi PT atau mati. Sedangkan klub-klub berubah menjadi sekolah sepak bola. Kompetisi intern Persebayanya menjadi kompetisi antarsekolah sepak bola.

Hanya, memang tidak perlu buru-buru. Lima tahun lagi juga tidak apa-apa. Dalam lima tahun ini, saya kira, Persebaya masih akan selalu menemukan orang gila. Mumpung lagi banyak orang gila, ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Lima tahun lagi tidak banyak lagi orang gila. Apalagi, 10 tahun lagi.

Monday, May 14, 2012

Menghitung Masa Depan Persebaya (1)



09 Mar 2008 sumber :
http://dahlaniskan.wordpress.com

Catatan Dahlan Iskan

Inti dari seluruh persoalan Persebaya adalah ini:
  • Yang memiliki tidak mampu
  • Yang mampu tidak memiliki
Siapakah yang memiliki Persebaya? Semua sudah tahu. Pemilik Persebaya adalah klub-klub anggota Persebaya (IM, Sakti, Gelora, Asyabaab, dan seterusnya itu).

Suporter, pemkot, pencinta, penggila, pencoleng, penggerogot, benalu, dan pengobyek hanyalah konsumen Persebaya. Memang, dalam dunia manajemen modern, ada istilah untuk mereka itu: stake holder. Tapi, tetap saja bukan pemilik.

Sehebat-hebat Anda mencintai Persebaya, tetaplah Anda bukan pemilik Persebaya. Biar pun Anda sampai pernah nekat menipu orang tua, membohongi istri, jualan celana, mencopet, dan memaksa sopir truk, semata-mata bukan karena Anda orang jahat, melainkan agar bisa mendukung Persebaya, tetaplah Anda bukan pemilik Persebaya.

Saya pernah menjelaskan kepada seorang pengusaha yang pernah dimintai uang senilai harga karcis stadion oleh suporter yang menggerombol di pinggir jalan. Pengusaha tersebut ndongkol sekali karena merasa diperas. Untuk menghibur hatinya, saya jelaskan kepada dia bagaimana logika cara berpikir suporter tersebut.
Begini: di dalam hati suporter itu, dia tidak merasa lagi memeras. Dia merasa sedang berjuang untuk mendukung Persebaya. Saya membedakan antara mendukung dan menonton. Kalau menonton, dia harus punya uang. Tapi, kalau mendukung, bisa harus punya uang, bisa juga hanya bermodal nekat. Inilah asbabun nuzul-nya istilah bonek.

Kebetulan, yang minta uang kepada teman saya tersebut tidak punya uang. Tapi, dia merasa harus berjuang mendukung Persebaya. Untuk itu, dia merasa rela berkorban berjalan kaki dari rumahnya yang jauh, berpanas-panas, dan berteriak-teriak.

Untuk bisa berjuang lebih maksimal, dia harus bisa masuk stadion. Sekali lagi, dia tidak ingin menonton dalam pengertian menikmati jalannya pertandingan. Kalau toh ada, mungkin hanya 25 persen. Yang 70 persen adalah ingin mewujudkan dukungannya agar Persebaya menang.

Karena tidak punya uang, bagaimana agar bisa memberikan dukungan maksimal? Maka, dia berpikir begini: “Mengapa untuk membela Persebaya hanya dia yang harus berkorban (jalan kaki, teriak-teriak, berpanas-panas, dlsb)? Mengapa yang punya uang seperti teman saya itu tidak ikut berkorban untuk Persebaya-kita? Dia berpikir, teman saya itu mungkin tidak punya waktu untuk mendukung Persebaya dengan cara datang ke stadion. Maka, biarlah dia yang datang ke stadion, tapi uangnya harus dari teman saya itu. Dia berpikir sudah seharusnya siapa pun warga Surabaya memberikan dukungan ke Persebaya”.

Jadi, di dalam masyarakat, ada dua logika yang bertentangan. Teman saya punya logika, kalau mau nonton, ya harus punya uang. Suporter itu punya logika, semua orang Surabaya harus mau berkorban untuk Persebaya. Kalau tidak mau berkorban waktu dan energi fisik, apa salahnya berkorban uang? Toh, kalau Persebaya menangan, yang bangga bukan hanya dia, tapi semua orang Surabaya!

Jadi, kata saya kepada teman saya tersebut, dia itu sama sekali tidak merasa jadi pemeras, melainkan merasa sedang jadi pejuang! Bahwa caranya seperti itu, bahwa logikanya seperti itu, ya begitulah logika orang Surabaya tadi. Dan pemilik logika seperti itu bukan hanya orang Surabaya (meski ini khas Surabaya).
Lihatlah film Nagabonar atau Nagabonar Jadi Dua! Kurang lebih logika Nagabonar itulah yang terjadi. Logika dia, orang yang punya uang harus ikut berjuang, sopir truk harus ikut berjuang, masinis kereta api harus ikut berjuang. Dia saja yang miskin mau berjuang, mengapa yang mampu tidak mau? Dia justru merasa aneh kalau ada orang yang mengatakan bahwa dia itu pemeras. Dia justru berpikir: orang-orang itu gila, diajak berjuang kok ngomel, tidak ikhlas dan perhitungan. Dia mengatakan pada dirinya sendiri: Lihat saya ini, tidak punya apa-apa saja mau berjuang!

Mendukung Persebaya bagi dia adalah berjuang. Bukan menonton!
Tapi, sungguh kasihan. Suporter yang merasa sedang jadi pejuang tersebut, tetaplah bukan pemilik Persebaya. Pemilik Persebaya tetaplah klub-klub anggota Persebaya saja. Klub-klub yang sebenarnya sudah tidak mampu lagi menjadi pemilik Persebaya. Ini bukan kesalahan klub-klub itu sendiri. Ini hanya sebagai konsekuensi dari perkembangan zaman.

Ibaratnya, ada seorang guru yang dulu mendirikan dan memiliki rumah di Jalan Pabrice Lumumba. Jalan itu lama-kelamaan dilebarkan menjadi delapan lajur, sehingga rumahnya tinggal beberapa meter saja. Bahkan, akibat perkembangan kota yang pesat, jalan tersebut menjadi jalan utama di Surabaya dan pada 1965 namanya berganti menjadi Jalan Raya Darmo. NJOP-nya pun pada 2007 sudah mencapai Rp 10 juta/meter. 

Sebagai orang yang tetap berstatus guru, kini dia tidak lagi mampu membayar pajak PBB-nya. Biar pun tidak ada peraturan bahwa guru dilarang tinggal di Jalan Raya Darmo, namun dia harus membuat keputusan. Apalagi, dia kini sudah amat tua dan tidak punya anak.

Kini, pilihannya hanyalah: menjual tanah yang tinggal beberapa meter itu. Harganya tidak bisa tinggi karena tidak cukup untuk mendirikan sebuah rumah mewah. Kebetulan, meski di Jalan Darmo, tapi berada di sudut jalan, sehingga hanya dua rumah di sebelah kiri dan belakangnya yang masih mau membeli. Kalau tanah itu masih sedikit berharga, itu hanyalah karena namanya yang besar, yakni berada di Jalan Raya Darmo.

Kalau saya ditanya sang guru akan diapakan tanahnya di Jalan Raya Darmo itu, saya akan sarankan agar dijual saja, meski harganya tidak bisa tinggi. Kalau tidak dijual, sampai dia mati tidak akan ada orang yang mau menyumbang membayarkan PBB-nya. Tapi, untuk apa hasil penjualan tanahnya tersebut? Saya sarankan, hasil penjualan tanah itu bisa dipakai untuk mendirikan sekolah sepak bola.

Bisa saja dia mokong, karena mokong adalah juga menjadi haknya. Bisa saja dia bertekad untuk mati di lokasi itu. Tidak ada orang yang membunuhnya karena dia mati akibat stres memikirkan pajak tanahnya yang di luar kemampuannya untuk membayar. Padahal, dia telanjur berwasiat agar kalau mati nanti harus dikuburkan di tanah yang bagi dirinya sangat bersejarah itu. Dia tidak peduli apakah kuburannya tersebut nanti mengganggu warga kota secara keseluruhan atau tidak. (bersambung)