Saturday, January 12, 2013

Akankah Persebaya seperti Uni Soviet ?


Glasnost (keterbukaan) adalah kebijakan yang diterapkan Mikhail Gorbachev. Tujuannya adalah mengurangi korupsi dan tebalnya birokrasi di Rusia masa itu.

Jika Glasnost & Perestroika  Awal Kehancuran Sosialisme Rusia maka di tubuh Persebaya saat ini justru bisa jadi terjadi sebaliknya. Tidak adanya keterbukaan di manajemen antara pemilik dan pengelola bisa menyebabkan awal dari kehancuran sebuah klub dengan nama dan sejarah yg besar dan panjang. Tahun 2013 ini Persebaya akan memasuki usia ke-86 tahun.

 

Beberapa hari ini kita semua di beri kejutan berita bahwa CEO Persebaya Gede W yang notabene seorang pengusaha sukses membeli sebuah klub sepakbola yang dikelola pemda kabupaten Mojokerto yaitu PSMP. Bagaikan petir disiang bolong berita ini bagi bonek , betapa tidak disaat tim ini sendiri masih kalang kabut dengan problematika internal secara tiba-tiba seorang CEO klub dengan terbuka akan mengelola klub lain. Sebagai seorang investor tindakan ini tidak ada salahnya karena semua murni bisnis.

 

Seperti diberitakan beberapa media online dan cetak sang CEO akan menggelontorkan dana bagi “mainan” barunya tersebut sebesar  5 Milyar rupiah untuk satu musim kedepan. Dua minggu sebelumnya CS Persebaya Ram Surahman mengatakan pada media bahwa Persebaya merevisi anggaran satu musim dari 14 M ke 16-18 M semusim dengan asumsi jumlah klub peserta liga prima berubah dari 12 ke 16 klub dan game tandang dari Aceh sampai Papua.

 

Keterkejutan ini dibarengi pula dengan pada saat audisi atau negosiasi dengan pemkab Mojokerto sang CEO didampingi oleh CS dan Pelatih Persebaya ( pengakuannya menemani sebagai teman ). Secara etika hal ini sangat mengagetkan karena bagaimanapun mereka masih sebagai pengurus dan staf sebuah klub resmi yang masih dililit masalah, Persebaya.

 

Belum habis sambaran petir itu dibarengi pula bahwa ada pernyataan resmi dari CS setelah beberapa akun twitter bonek menanyakan hal itu keluar jawaban : “Persebaya ada masalah? Ya. Tapi sy tak bisa cerita disini. Yg pasti temen temen pokja wtwn psby sampai ikutan bergerak cari solusi

 

Dari jawaban itu akhirnya apa yang selama ini banyak bersliweran rumor akhirnya terbuka bahwa di tubuh Persebaya ada masalah yang diungkap sendiri oleh seorang Corporate Secretary. Disini sebenarnya diperlukan keterbukaan akan hal ini agar semua insan bola di Surabaya bisa memberi masukan dan saran. Apalagi berhembus kabar hebat bahwa CEO ini akan mundur dari Persebaya awal bulan Februari. Disini ternyata ada “perang dingin” antara CEO dengan pemilik Persebaya .

 

Dibutuhkan jiwa besar kedua belah pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini apalagi kompetisi semakin dekat dan permasalahan tim secara keseluruhan beserta sponsor pendukung yang masih belum jelas . Keterbukaan dan kejujuran semua pihak terkait disini harus diutamakan untuk sebuah nama besar Persebaya. Lebih cepat lebih baik seperti kata Jusuf Kalla.

 

Akankah tanpa Glasnost (keterbukaan) ini Persebaya akan hancur dan pecah seperti sebuah Negara Uni Soviet dan hanya menjadi bacaan buku sejarah anak cucu kita ? Semoga tidak !!!

 

Nama Persebaya jauh lebih besar dari pada nama-nama kalian pengurus dan pemilik klub,sadarlah akan hal ini !!!

*foto dari google

2 comments:

  1. Pembelian MP ini menurutku produk dari situasi konflik. Coba kalau MP nawarin ke CEO sebulan lalu pasti bakal ditolak. MP pas momennya, nawarin ke CEO saat ada konflik meruncing ini.

    Muara konflik petinggi ini (mungkin) tak lain adalah uang. Dirut PTPI tergoda dengan kabar dana 15M ke atas dari konsorsium untuk Persebaya. Ia masih ngerasa punya hak untuk menikmati uang tersebut, apalagi Pengcab PSSI yg diketuainya juga gak punya dana.
    Ia tahu kalau PTPI sudah tak ada kuasa untuk menikmati uang tsb karena pengelolaan memang sudah dikontrak PTPP. Satu-satunya cara agar dia dapet jatah juga, ganti CEO dengan yg baru yg bisa mengucurkan dana padanya.
    "Aku biyen sing nunjuk Gede mbalik, saiki mosok gak iso ngganti" batinnya mungkin begitu.

    Komisaris mencoba mempertemukan CEO dan PTPI di Jakarta. KOnsorsium dan LPIS sebagai mediator. Tapi pertemuan itu gagal, karena kedatangan Presiden AFC yg tiba-tiba. Kian meruncing, PT PI dapet sms tentang listrik yg tanggung jawab dia karena kantor Pengcab dan Persebaya sealamat. Sementara CEO ngumbar kedigdayaannya, 'njajal sih listrik iku bayaren. Duikku? Tuku klub liyo sik kuat aku, urusen Persebayamu."
    skenario yg mungkin terjadi ke depan:
    -CEO kembali ke Dityo, dia yg memutuskan kembali atau nunjuk orang lain dari konsorsium
    -Di sisi lain PTPI sudah siap mengajukan nama untuk CEO baru. Orang Surabaya asli, tapi 2 nama semua dari satu muara, Nasdem!
    selamat jadi kendaraan politik Persebaya dan Bonek. Bukan pilgub 2013 Jatim lagi, Ini pilpres 2014! Ojok kaget disik engkuk lek pas HT match Persebaya ono HaryTanoe ndek iklan e *ngikik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mengunjungi dan memberi tambahan wawasan,seperti yang saya prediksikan juga begitu,jelang pilgub dan pilpres akan terjadi perang bendera dan kepentingan..bisa "BIRU" vs "MERAH"

      Delete