Saturday, April 6, 2013

Persebaya : Gede Mundur untuk Kedua kalinya



April identik dengan apa yang namanya “April Mop” , dan di awal April 2013 ini Persebaya mengalami apa yang namanya seperti analogi anak ayam kehilangan induknya. Kemarin 5 April 2013 disebuah rumah makan di Surabaya Barat secara mendadak CEO Persebaya dihadapan para pemain dan staf pelatih mengumumkan pengunduran dirinya efektif mulai  1 April 2013 dan suratnya sudah ditembuskan ke PT.Persebaya Indonesia dan PT.Pengelola Persebaya Indonesia.

"Mulai hari ini, saya bukan CEO Persebaya lagi. Saya serahkan kepada PT Persebaya   Indonesia," kata Gede, Jumat (5/4/2013) malam”

Mundurnya GW ini untuk kedua kalinya setelah awal Februari lalu juga mengajukan surat pengunduran diri dan sudah menyatakan bukan lagi sebagai CEO Persebaya saat ada diskusi tentang Persebaya di Hotel Inna Simpang yang diselenggarakan salah satu koran Surabaya. Hanya kemunduran saat itu tidak disetujui pemilik dank arena pihak konsursium Jakarta menyerah tentang pendanaan Persebaya akhirnya GW maju lagi sebagai CEO.

Seperti yang diungkapkan pada pertemuan jumat malam tersebut GW mengemukakan ada empat alasan yang menjadikan dia mundur dari Persebaya. Pertama adalah hasil KLB PSSI tentang penyatuan atau unifikasi liga yang tidak menghasilkan keputusan yang win win solution.Untuk alasan pertama masih bisa dipahami secara objektif.

Kedua adalah Gede merasa tidak mendapat support maksimal dari seluruh komponen Persebaya. Gede juga tidak mendapat support dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Ini sepertinya masalah penggunaan stadion Tambaksari , keringanan pajak kemudahan pengurusan ijin keamanan . Alasan kedua ini sepertinya masih bisa diperdebatkan dengan kinerja manajemen Persebaya sendiri di bawah GW yang kurang maksimal dan optimal dalam melakukan kewajiban dan terobosan ataupun lobi ke pihak terkait. Dalam bahasa sederhananya kurang terjalin komunikasi dan silaturahim yang baik dengan pihak pemkot dan keamanan. Dan satu lagi beberapa pengurus/manajemen merangkap jabatan dengan menjadi pengurus di klub lain (RMP Mojokerto).

Ketiga Gede merasa kurang mendapat dukungan optimal dari kalangan supporter.Ini alasan mengada-ada yang sangat menyinggung bonek untuk dijadikan alasan GW mundur.

"Teman-teman Bonek tidak optimal dalam mendukung kami. Suporter bukan datang dan nonton ke stadion saja, kami minta bantuan agar mereka mendesak Pemkot untuk bantu penggunaan Stadion Tambaksari saja mereka diam saja," katanya”

Gede lupa bahwa bonek selalu mendukung penuh dimanapun Persebaya bermain , saat Persebaya tidak latihanpun bonek tetap mendukung para pemain agar tetap semangat berlatih sendiri bahkan dengan menduduki mess Persebaya. Bonek juga sudah melakukan penyampaian aspirasi ke Pemkot saat melakukan demo sewaktu Gede mundur pertama awal Pebruari lalu.


Keempat alasan GW adalah tidak ada komitmen dari pemilik dan pemegang Persebaya tentang dana talangan yang menurut GW sudah dikucurkan selama ini. Alasan ini sangat masuk akal kalau melihat selama ini GW sebagai CEO sepertinya hanya “dimanfaatkan” oleh pemilik dan pemegang saham untuk menjalankan klub tanpa ada apa yang dikatakan “bantuan” financial ataupun dukungan dalam bentuk lain. Bahkan sempat terungkap para pemegang saham terutama yang dari klub internal justru “meminta” atau menyusui ke klub Persebaya yang notabene sebuah klub professional. Selama ini terlihat belum ada langkah nyata dari pemilik dan pemegang saham berkomunikasi langsung dengan pengelola dalam hal ini CEO.

Nasi sudah menjadi bubur , GW sudah mundur dan pemilik belum mengeluarkan statemen lagi kecuali tentang masalah tuntutan nama Persebaya mana yang asli ke BAKI. Saat ini yang paling penting adalah menyelamatkan roda manajemen klub untuk menyelesaikan musim kompetisi ini dan nasib para pemain yang sepertinya bulan April ini mereka belum menerima gaji lagi. Bonek sudah melakukan aksi dengan membuat petisi tentang keabsahan Persebaya dan tentang unifikasi liga. Maka pemegang saham dan pemiliklah yang bertugas dan bekerja menyelamatkan nasib klub dan pemain.

Manajemen bisa bubar bahkan pemilikpun bisa berganti tetapi Persebaya tetaplah Persebaya yang akan tetap ada sejak klub ini dilahirkan 18 Juni 1927 dibawah prakarsa Paidjo dan M. Pamoedji. Mari kita selamatkan Persebaya sebuah klub dengan sejarah yang panjang dan prestasi yang membanggakan.

Persebaya Emosi Jiwaku

No comments:

Post a Comment